Para petani bawang merah diharapkan ikut mengendalikan inflasi nilai mata uang rupiah. yaitu dengan menjaga produksi pertanian agar di pasaran terjadi keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Bawang merah salah satu komoditas sebagai penyumbang inflasi nasional.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY, Arief Budi Santoso mengungkapkan BI ikut menjaga kestabilan produksi komoditas pertanian yang menjadi penyumbang inflasi. Ketidakstabilan produksi komoditas pertanian di daerah, menyumbang sekitar 80 persen inflasi nasional.

"inflasi di daerah yang disebabkan terjadi adanya gangguan produksi harus dikendalikan. BI ikut memfasilitasi membantu para petani, menjaga produksi komoditas bawang merah yang menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi," katanya.

Arief Budi Santoso mengungkapkan hal tersebut seusai meresmikan Gudang Benih Bawang Merah yang akan dikelola Kelompok Tani Sido Makmur di Klumutan, Dessa Srikayangan, Rabu (11).

Turut hadir pada acara itu Pj. Bupati Kulon Progo, Budi Antono, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Sasongko, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo, Bambang Tri Budi Harsono dan Komandan Kodim 0731/Kulon Progo.

Anggota kelompok tani diharapkan gudang ukuran 7 x 12 meter itu, tidak hanya untuk menyimpan benih. Terutama penyimpanan benih varietas lokal Srikayangan. Dengan adanya gudang benih, kebutuhan benih dapat tercukupi dari petani sendiri.

"komoditas bawang merah cukup prospektif. Dalam kondisi saat ini dapat memberikan pendapatan bagi petani sekitar Rp 225 juta per hektar." jelasnya.