Badan Urusan Logistik Divisi Regional Daerah Istimewa Yogyakarta menyebutkan stok beras masih mencukupi kebutuhan masyarakat di lima kabupaten/kota hingga Mei 2018.
 
"Stok beras di Yogyakarta masih mencukupi untuk dua hingga tiga bulan ke depan," kata Kepala Badan Urusan Logistk (Bulog) Divre DIY Miftahul Ulum di Yogyakarta, Minggu.
 
Menurut Miftah, agar penyerapan beras petani tetap berlangsung hingga saat ini Bulog masih menggunakan pembelian dengan harga komersial. 
 
Penyerapan dengan harga komersial, menurut dia, dilakukan untuk bersaing dengan tengkulak atau swasta yang berani membeli harga di atas harga pembelian pemerintah (HPP). Apalagi di kalangan petani memang ada yang sudah menjual di atas HPP.
 
"Serapan masih memakai skema komersial, kalau untuk PSO masih belum bisa masuk harganya karena harga beras petani masih di atas (HPP)," kata dia.
 
Harga beras petani yang dijual di atas HPP beras yang selama ini masih ditetapkan Rp7.300 per kg mengacu instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5/2015 menyebabkan volume serapan beras petani hingga saat ini belum normal. "Kalau belum masuk harga ya belum (normal)," kata Miftahul.
 
Kendati demikian serapan beras petani saat ini cenderung meningkat dibandingkan Januari 2018. Pada Januari Bulog menyerap rata-rata 200 ton per hari, sedangkan pada Februari meningkat menjadi 400 ton setara beras per hari.
 
Ketua III Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Daerah Istimewa Yogyakarta Budi Hanoto mengatakan masyarakat di DIY belum membutuhkan pasokan beras impor karena stok masih aman. 
 
Menurut dia, impor beras merupakan kebijakan Pemerintah Pusat, maka apabila DIY tetap mendapatkan alokasi beras impor, pihaknya bersama Bulog DIY akan mengkaji pemanfaatannya.
 
"Kita masih menggunakan beras lokal, tidak perlu beras impor, karena hingga saat ini stoknya masih mencukupi," kata dia.