Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman menyatakan produksi telut ayam maupun daging di wilayah setempat sangat mencukupi dan mampu memenuhi kebutuhan.

      

" Produksi telur maupun daging ayam sebenarnya saat ini sangat mencukupi, adanya kenaikan harga ayam dan telur lebih dipicu karena kurs rupiah terhadap dolar dan naiknya permintaan di masyarakat," kata Kepala Bidang Peternakan dan kesehatan Hewan, Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP4) Kabupaten Sleman Hussen Siswanto, Sabtu.

     

Menurut dia, hasil dari produksi telur ayam di Kabupaten Sleman per tahun bisa mencapai 16.940 ton.

     

"Di Sleman sebenarnya produksi telur ayam mencukupi, dari sisi produksi juga sudah banyak. Saat lebaran lalu harga daging ayam naik. Kemudian masyarakat berganti, mencari alternatif untuk mencukupi kebutuhan protein dengan cara konsumsi telur. Dan kebutuhan telur juga menjadi bertambah," katanya.

   

 Ia mengatakan, hampir sebagian besar komponen pakan untuk ternak ayam didapat dengan cara impor. Sedangkan saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar sedang turun



" Hal tersebut juga sangat berpengaruh bagi peningkatan biaya produksi, baik untuk ayam potong maupun telur ayam," katanya.

     

Hussen mengatakan, karena pakan yang mahal tersebut, peternak kadang berinisiatif untuk mencari campuran pakan lain.

   

 "Karena pemberian makanan ayam tidak seperti biasa, juga berpengaruh terhadap waktu pemeliharannya menjadi lebih panjang," katanya.

     

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman Heru Saptono mengatakan jika dikaitkan dengan musim kemarau, peningkatan harga daging ayam dan telur juga ada pengaruhnya.

     

"Tadinya peternak bisa memanen lebih awal, menjadi terlambat," katanya.

     

Menurut dia, musim juga sangat berpengaruh bagi perkembangan DOC (bibit ayam), yang mana DOC menjadi tidak begitu baik.

     

"Kalau musim pengaruhnya terhadap DOC, yang mana perkembangannya tidak begitu bagus. Kemarin saja DOC yang tadinya hanya dijual Rp5.000 per ekor, menjadi Tp10.000 per ekor. Itu kan juga ada pengaruhnya," katanya.

   

 Heru mengimbau agar masyarakat mulai membiasakan diri memakan ikan. Hal tersebut karena selain protein yang dikandung oleh ikan juga banyak, juga harganya yang relatif stabil.

   

 "Yang paling memprihatinkan bagi warga yang tidak mampu, mereka jadi tidak bisa mengkonsumsi telur karena harganya yang naik. Makanya kami punya ide untuk memberikan mereka 'babon' (induk ayam) agar meskipun harga telur naik, mereka masih bisa mengkonsumsi," katanya.

(sumber:https://jogja.antaranews.com)