Masyarakat diminta tidak membuang limbah hewan qurban (kotoran/jeroan) ke sungai karena akan mencemari lingkungan.  Demikian salah satu yang mengemuka pada konferensi pers menjelang Idul Adha 1439 Hijriyah bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIY di Gedung Unit 9 Komplek Kepatihan, Yogyakarta, Senin (20/8).

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekda DIY Budi Wibowo SH MM TPID sudah melakukan pemantauan ke 5 kabuopaten/kota terkait stok dan kondisi hewan qurban.  ''Secara umum stok cukup, harga relatif stabil, ada kenaikan tapi masih wajar,'' kata Budi Wibowo.

Tampak menemani Budi antara lain Kepala Diskominfo DIY Ir Rony Primanto Hari MT sekaligus sebagai moderator, Kepala Biro Perekonomian dan SDA Sugeng Purwanto M MA dan perwakilan BI Yogyakarta Probo Sukesi.

Kenaikan harga menurut Probo Sukesi disebabkan naiknya harga pakan ternak.  Selain itu, pada cuaca dingin sapi rentan terkena penyakit sehingga mempengaruhi nafsu makannya.   Agar sapi tetap sehat, maka jumlah pakan ditingkatkan.

“Kita melihat sejak tahun 2016 harganya relatif stabil, yaitu berkisar antara Rp 115.000 sampai Rp 120.000 per kg. Tahun 2015 ada sedikit penurunan harga. Sejak 2016, 2017, 2018 mulai mengalami kenaikan, tapi masih relatif stabil karena hanya lima sampai 10 persen,” tuturnya.

Monitoring ke kabupaten/kota menghasilkan data sapi qurban di DIY umumnya jenis PO (Peranakan Ongole), Limousin, Brahman dan Madura.  Kisaran harga mulai Rp 19 juta sampai Rp 22 juta. Kambing atau domba rata-rata Rp 2,7 juta sampai Rp 3 juta per ekor.

Terkait pemotongan dan pengelolaan hewan qurban, TPID juga melakukan pemantauan terkait sanitasi.  Tim mendapati fakta masih banyak tempat pemotongan atau penyembelihan hewan qurban yang kurang memenuhi persyaratan. Penanganan limbah masih banyak dilakukan dengan membuangnya ke sungai atau selokan.

“Untuk pencucian jeroan sapi, Pemkab Sleman sudah menegaskan warga diminta tidak membuang jeroan sapi atau mencuci isi perut sapi di sungai,” ujar  Sugeng Purwanto.

Untuk menjaga rasa aman dan nyaman telah dilakukan kerja sama dengan takmir masjid dan mahasiswa FKH UGM untuk melakukan pengawasan.  TPID juga aktif melakukan sosialisasi pemeriksaan kesehatan hewan dan penanganan daging di seluruh kecamatan di DIY.

“Kami ingin meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah pada situasi apapun akan berada untuk kepentingan masyarakat. Termasuk secara rutin melakukan monitoring bersama TPID,” sambung Sugeng.