Yogyakarta (15/04/2019) jogjaprov.go.id – Bulan Ramadhan sebentar lagi akan datang. Berkenaan dengan itu menjelang peristiwa tersebut TPID DIY (Tim Pengendali Inflasi Daerah ) melaksanakan kegiatan rutinnya berupa pemantauan harga dan ketersediaan stok bahan pokok stratetgis ke Pasar Tradisional di Kabupaten/Kota di seluruh wilayah DIY. Kegiatan yang dimaksudkan guna memperoleh data mengenai harga dan kondisi ketersediaan stok komoditi, di hari pertama, Senin (15/04) hari ini adalah menyasar ke Pasar Argosari di Kabupaten Gunungkidul.

Dipimpin oleh Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan SDA Setda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, S.T., M.T. Tim yang terdiri  dari: Perwakilan BI Yogyakarta, Balai Besar POM Yogyakarta, Bulog Drive DIY, Satgas Pangan, BIN, Disperindag, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan menuju ke  Pasar Argosari di Gunungkidul dan diterima  di lokasi oleh Bupati Gunungkidul Badingah S.Sos.

Dalam kesempatan tersebut, Ni Made Dwipanti mengemukakan maksud dan tujuan kegiatan tersebut  dan disambut baik oleh Bupati Gunungkidul dengan harapan semoga kondisi di Argosari bisa stabil dan harga bisa terkendali.” Hal ini akan diupayakan bagaimana  di Gunungkidul  agar kenaikannya bisa stabil”, tandasnya.

Sementara itu juru bicara Perwakilan Bank Indonesia  Yogyakarta, Probo dalam kesempatan tersebut mengemukakan bahwa kondisi inflasi di DIY per Maret 2019 ini sekitar 0,26 %, tiga kali lipat lebih tinggi dibanding tingkat nasional yaitu sekitar 0,11 %. Hal ini disebabkan adanya kenaikan harga bawang putih yang lumayan tinggi, begitu juga dengan bawang merah. Disamping itu kontrak rumah yang mengalami pergeseran peraturan, nangka muda sebagai bahan pembuatan gudeg  serta  nasi dan lauk pauk yang dibutuhkan oleh anak-anak kost maupun  pariwisata turut juga mewarnai terjadinya  inflasi yang tinggi.

Menurut Probo, adanya 4 K untuk mengatasi hal tersebut, yaitu : Keterjangkauan harga, ketersediaan stok, kelancaran distribusi dan komoditas yang efektif.

Sedangkan Balai Besar POM DIY yang dipimpin langsung oleh Kepala Balai, Rustiyawati dalam sidaknya pada kesempatan tersebut menemukan tiga bahan makanan yang tidak menyehatkan dari 17 sample yang diteliti. Ketiganya adalah  berupa: teri nasi atau lebih populer disebut teri Medan yang positif mengandung formalin, kerupuk yang masih menggunakan pewarna kain serta bleng yang digunakan untuk mengenyalkan makanan.

Adapun setelah tim berkeliling pasar melihat kondisi riil dan berdialog dengan para pedagang, ternyata tidak ditemui adanya lonjakan harga yang signifikan seperti : Gula Pasir, Telur Ayam Broiler dari 22 ribu rupiah menjadi 23 ribu rupiah, bawang merah kecil dari 30 ribu menjadi 33 ribu, bawang putih sincau dari 36 ribu menjadi 40 ribu, dan bawang putih kating naik 2 ribu, yaitu dari 50 ribu menjadi 52 ribu rupiah.

Sedangkan harga komoditas lain seperti : beras, gula pasir, minyak goreng serta  daging sapi relatif stabil tidak mengalami kenaikan. (teb)

jogjaprov.go.id